Pelatihan Hipnoterapi

Tampilkan postingan dengan label Santri Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri Media. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Desember 2023

Daftar Makam Auliya' di Kota dan Kabupaten Kediri Terbaru

Inilah daftar malam auliya, ulama, kiai di Kota dan Kabupaten Kediri Terbaru dan Terlengkap, silahkan tambah di kolom komentar apabila ada referensi terbaru.
Hadis Tentang Ziarah Kubur
Hadis Tentang Ziarah Kubur
Artinya: "Rasulullah SAW berziarah ke makam pahlawan Uhud dan makam ahli Baqi', beliau memberi salam dan mendoakan kepada mereka, sabdanya: "Assalaamu 'alaikum Ahlad diyaari minal Mukminiina wal muslimiina wa innaa isyaa Allaahu bikum laahikum, Nas ‘alullaaha lanaa walakumul 'aafiyata., artinya" semoga kesejahteraan bagimu wahai ahli kubur dari orang-­orang mukmin dan orang-orang Islam. Insya Allah kami akan bertemu dengan kamu. Kami mohon kesejahteraan kepada Allah untuk kami dan kamu sekalian".

Kang Santoso awali dari data yang kami kumpulkan  dari beberapa referensi yang ada terkait dengan Daftar Makam Auliya' di Kabupaten Kediri sebagaimana berikut:

A. Lokasi Kec. Mojo Kabupaten Kediri
  1. Syaikh Abdul Qodir Al Khairi (Tambak - Ngadi - Mojo-Kediri)
  2. Syaikh Abdullah Sholeh(Tambak - Ngadi - Mojo-Kediri)
  3. Syaikh Muhammad Hirman (Tambak - Ngadi - Mojo-Kediri)
  4. Syaikh Hamim Jazuli "Gus Mik" (Tambak - Ngadi - Mojo-Kediri)
  5. Mbah Kyai Anis Ibrahim (Tambak - Ngadi - Mojo-Kediri)
  6. Mbah Kyai Ahmad Sidiq (Tambak - Ngadi - Mojo-Kediri)
  7. Syaikh Usman (Temayan Kediri)
  8. Mbah Kyai Jazuli Usman (Ploso Kediri)
  9. Kyai Munif Jazuli
  10. Mbah Kyai Jamaludin (Batokan - Mojo - Kediri)
  11. Mbah Kyai Anwar (Pethuk - Mojo-Kediri)
  12. Muhammad bin Thohir Ba’abud (Pelem Ploso Kediri)
B. Lokasi Kec. Grogol dan Banyakan - Kab. Kediri
  1. Syech Abdullah mursyad (sentono landeyan, Bakalan, Kec. Grogol, Kab. Kediri)
  2. KH. Hasan Alwi (Banyakan): Beliau adalah Orang tua KH. Arif yang mempunyai putra KH. Badrus Arif (Pendiri PP. Al-Hikmah Purwasri Kediri) dan putra-putri KH. Hasan Alwi ini rata-rata menjadi tokoh / pemuka agama di Kab. kediri
C. Lokasi Kec. Gampengrejo- Kab. Kediri
  1. Syech Dahlan al-Ajmpesi (Putih - Gempengrejo - Kab. Kediri)
  2. Syech Ihsan bin Dahlan Al-Jampesi (Putih - Gempengrejo - Kab. Kediri)
  3. KH. Abdul Lathif Muhammad (Putih - Gempengrejo - Kab. Kediri)
  4. Syech Ujang Qosim (Putih - Gempengrejo - Kab. Kediri)
  5. Dan makam pengasuh Pondok Pesantren Jampes, berada di area makam tersebut.
  6. Syech Zainal Abidin (Toyoresmi – Gampengrejo – Kab. Kediri)
D. Lokasi Kec. Pagu - Kec. Papar - Kec. Kayenkidul - Kec. Gurah- Kab. Kediri
  1.  Syech Hasan Muhyi (Kapu Rejo - Pagu - Kediri)
  2. KH. Ahmad Shodiq ((Kapu Rejo - Pagu - Kediri)
  3. Dan Pengasuh PP. Bintang Sembilan Kapu Rejo juga di makam kan di area pemakaman ini
  4. KH. Badrus Sholeh  (PP. Al-Hikmah Purwoasri - Kab. Kediri)
  5. Mbah Kyai Hamid (Cangkring - Gurah)
  6. Syech Jufri bin Faqih ( Bangsongan - Kayenkidul)
E. Lokasi Kec. Semen - Kabupaten Kediri
  1. Mbah Kyai Abdullah Mu’thi al-Hafidz al-Quran (Mojokudi Kediri)
  2. Mbah Kyai Hasan Mubarak (Mojokudi Kediri)
  3. Mbah Kyai Abu Khair (Mojokudi Kediri)
  4. Mbah Kyai Ridwan Isra'il (Gunting Kediri)
  5. Mbah Kyai Ma’ruf al-Hafidz al-Quran (Klodran Kediri)
  6. Mbah Kyai Ridwan Abdul Razaq al-Hafidz al-Quran (Klodran Kediri)
  7. Mbah Pangkat / Syech Pethak / Pangeran Amir Hamzah (Semen)
 F. Lokasi Kec. Pare dan Kec. Kepung- Kabupaten Kediri
  1. KH. Khozin (Pengasuh PP. Darul Hikam - Bendo - Pare)
  2. KH. Hayat bin KH. Khozin (Pengasuh PP. Darul Hikam - Bendo - Pare)
  3. KH. Muhsin Isman, Pon.Pes.Tahfidhil Qur’an Sirojul Ulum, Semanding Pare)
  4. KH, Zamroji (Kencong - Pare - Kediri
  5. Mbah Kyai Imam Nawawi (Ringinagung  - Kepung - Kediri)
  6. Mbah Kyai Faqih (PP. Sumbersari Kediri)
  7. Mbah Kyai Nur Wahid (Sebelah utara Lapangan Canda Bhirawa - Tulungrejo - Pare)

A. Area Barat Sungai Brantas

  1. KH. Thoha Mu'id (Pendiri PP. Al-Ishlah Bandar Kidul - Kota Kediri) Biorgafi singkat beliau ada disini. (Lokasi Makam di Belakang Masjid Darunnajach Bandar Kidul)
  2. KH. Sholeh Banjar Melati
  3. KH. Abu Bakar Bandar Kidul (Lokasi Makam di Belakang Masjid Darunnajach Bandar Kidul)
  4. KH. Abdul Jalil Bandar Kidul (Lokasi Makam di Belakang Masjid Darunnajach Bandar Kidul)
  5. KH. Farich Fauzi (Gus Anggi') Pejuang Dzikrul Ghofilin (Lokasi Makam di Belakang Masjid Darunnajach Bandar Kidul)
  6. KH. Mubasyir Mundzir (PP. Maunnah Sari)
  7. KH. Ma'ruf (PP. Al-Ma'ruf - Kedunglo - Bandar Lor)
  8. Area Makam keluarga PP Lirboyo Kediri ( KH. Machrus Ali, KH. Abdul Karim, KH. Marzuki Dahlan, KH. Maksum Jauhari, dll)
  9. KH. Imam Yahya Machrus ( Ngampel - Mojoroto - Kota Kediri)

B. Area Timur Sungai Brantas

  1. Syech Samsuddin al-Wasil (setono Gedong - Kota Kediri)
  2. Beberapa makam Auliya di komplek Makam Setono Gedong
  3. Mbah Kyai Sa'id (Orang Tua Gus Lik Jamsaren) Kota Kediri
  4. Sunan Geseng (Kampung Dalem - Kota Kediri)


Mugi-mugi sedoyo ahli qubur pikantuk magfiroh ipun Gusti Allah, dipun panggenaken wonten panggenan engkang langkung sae minggahipun Allah, mugi barokah ipun lumeber dateng kulo panjenengan sami...Amiin, lahum al-fatihaah...

 

Demikian informasi terkait Daftar Makam Auliya' di Kota dan Kabupaten Kediri Terbaru

Senin, 21 November 2022

Zero Mind Afirmation Process (Proses Pembersihan Hati Dan Pikiran)

Zero Mind Process (Proses Pembersihan Hati Dan Pikiran): Bismillahirrohmanirrohim - Dengan izin Mu Ya Allah berkahilah saya dan orang-orang yang berada dalam tanggung jawab saya dan yang bertanggung jawab atas diri saya.

Juga semua teman dan sahabat saya juga saudara-saudarasaya semuanya baik di dunia nyata maupun di dunia maya

Juga orang-orang yang mendoakan saya maupun yang meminta saya untuk mendoakannya, yang saya datangi maupun yang mendatangi saya

Juga yang telah pernah masuk rumah saya maupun yang pernah saya masuk ke rumahnya. yang kami saling bersilaturahim satu sama lain

Yang telah pernah bertemu dengan saya maupun yang akan bertemu dengan saya termasuk yang kenal maupun yang hanya pernah mendengar nama saya atau mendengar cerita tentang saya

Juga yang terhubung dengan saya, yang menghubungi saya maupun yang di hubungkan kepada saya baik secara langsung / tidak langsung

Juga yang like, yang koment status" saya, ataupun yang saya like / koment status" mereka.

juga orang-orang  yang ikut / mengikuti saya baik dari bangsa jin / manusia

juga dari jenis EN, MG, ataupun khodam yang sengaja / tidak sengaja, yang rela / tidak rela di ikutkan / mengikuti saya yang saya ketahui / yang tidak saya ketahui.

Berkahilah kami semua dengan sgala bentuk kesehatan kedamaian kebahagiaan, i'tikad untuk selalu dapat berbuat baik dan semua hal yang positif

Dan lindungilah kami dari segala hal yang negatif, yang kami takutkan dan yang tidak kami inginkan

proses pembersihan hati dan pikiran
proses pembersihan hati dan pikiran


Bi haqqi Kaf ha ya 'ain shod, kha' min 'ain sin qof Khimayatuna mimma nakhoof, aminna mimma nakhoof, sallimna mimma nakhoof, najjina mimma nakhoof....

Ya robbi ya Robbi Sholli 'alaa Muhammad # Ya Robbi ya robbi sholli 'alaih wa sallim...

Ya Robbi ya robbi balligh-ghul wasilah # ya robbi ya robbi khush-shohu bil fadlilah...

Yamaraja" - Jaramaya : siapa yang menyerang berbalik menjadi berbelas kasihan.

Yamarani " - Niramaya : siapa yang datang dengan niat buruk akan berbalik dan menjauhi.

Yasilapa" - Palasiya : siapa yang membuat kelaparan berbalik memberi makan.

Yamiroda "- Daromiya : siapa yang memaksa berbalik memberi kebebasan dan keleluasaan.

Yamidosa " - Sadomiya : siapa yang berbuat dosa berbalik berbuat kebajikan.

Yadayuda" - Dayudaya : siapa yang memerangi berbalik membawa damai.

Yasiyaca" - Cayasiya : siapa yang menyengsarakan berbalik membawa kesejahteraan.

Yasihama" - Mahasiya : siapa yang berbuat merusak berbalik sayang dan memelihara.

Purbo waseso langgeng luhur luputo bilahi kabeh, laa hawla wa laa quwwata illa billahil 'aliyyil 'adlim...

Rahayu rahayu rahayu. Rahayu aku, rahayu kowe, rahayu sekabehe. rahayu selawase, rahayu ing samudayanipun, rahayu saking kersaning Allah

 

Laa ilaaha illallah # Muhammadur rosulullah , shollallahu 'alaihi wa sallam...

Bi sirril fatihah...


Ruqyah Dan Hipno Motivasi Untuk Siswa/Siswi MTsN 8 Kediri

Ruqyah Dan Hipno Motivasi Untuk Siswa/Siswi MTsN 8 Kediri - Kang Santoso: Sementara ini banyak yang salah kaprah dalam memahami Pengobatan Terapi Ruqyah yang di sangkut pautkan dengan kasus gangguan ghaib. Padahal sebenarnya metode pengobatan dengan ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya bermanfaat untuk penderita non medis saja, namun Ruqyah bisa juga di gunakan untuk membangkitkan motivasi belajar, meingkatkan prestasi dan juga menghilangkan mental blok siswa yang selama ini mengganggu konsentrasi belajar siswa semisal rasa malas, kecanduan miras dan narkoba, gampang ngantuk, dll. Yakni dengan kombinasi ilmu Hipnoterapi dan Ruqyah atau Hipno Ruqyah

ruqyah dan motivasi untuk siswa di kediri
ruqyah dan motivasi untuk siswa di kediri

Selain motivasi belajar siswa, penanaman mental spiritual, siswa juga dibimbing berikrar kepada dirinya untuk meningkatkan Ibadah kepada Allah dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya, melanggengkan membaca ayat suci Al-Qur’an setiap hari, serta berbakti kepada orang tua dan guru merupakan bagian rangkaian aktivasi yang diberikan kepada siswa dengan menggunakan metode Hipno Ruqyah.

Layanan ini juga di dukung oleh jasa terapi pengobatan hipnoterapi di Kediri

Ruqyah motivasi dan ketenangan diri siswa
Ruqyah motivasi dan ketenangan diri siswa

Alhamdulillah, kegiatan Ruqyah untuk Motivasi Siswa di Kediri berjalan dengan lancar yang di ikuti sekitar 50 siswa-siswi MTsN 8 Kediri. Terimakasih kami sampaikan kepada Dewan Guru dan civitas akademika yang lain atas apresiasinya kepada Team PC. JRA Gandarusa Kediri.

Jumat, 14 Januari 2022

Pondok Pesantren di Kota Kediri Untuk Pelajar SMP, SMA dan Mahasiswa

Pondok Pesantren Di Kota Kediri untuk siswa SMP, SMA, Mahasiswa,- Bagi anda yang saat ini sedang mencari informasi Pondok Pesantren di Kota Kediri untuk anak usia SMP, SMA dan Mahasiswa maka anda sebaik nya membaca tulisan ini sampai tuntas yaach....

Salah satu Pondok Pesantren Di Kota Kediri untuk siswa/siswi sekolah setingkat SMP, SMA dan Mahasiswa yang recomended adalah Pondok Pesantren Al-Ishlah - Bandar Kidul - Mojoroto - Kota Kediri.

Pondok Pesantren al-Ishlah - Bandar Kidul ini didirikan oleh Beliau Syaikhina KH. Thoha Mu'id Bin Abdul Mu'id. Beliau merupakan alumni Pondok Pesantren Mojosari (Berbek - Nganjuk) yang di asuh langsung oleh Mbah Kyai Zainuddin. 

Baca juga tulisan singkat tentang Biografi KH. Thoha Mu'id

KH. Thoha Mu'id dan Bu Nyai Siti Asiyah
KH. Thoha Mu'id dan Bu Nyai Siti Asiyah

Untuk mengetahui secara pasti lokasi Pondok Pesantren Al-Ishlah Bandar kidul - Kota Kediri, Silahkan ikuti panduan google Map di bawah ini



Mengapa kok Kang Santoso merekomendasikan pondok pesantren ini untuk anda? tentu ada yang bertanya demikian bukan?

Oke saya jawab yach.... Pondok Pesantren al-Ishlah merupakan pondok pesantren yang berhaluan ahlussunnah wal jama'ah yang cukup fleksibel dalam hal sistem metode belajar mengajar nya. artinya apa? Bagi santri putra maupun putri mulai dari tingkat SMP / SMA dan Mahasiswa di berikan kesempatan untuk menempuh pendidikan sekolah formal di luar lembaga pondok pesantren.  Walaupun ada juga sebagian santri yang hanya mondok saja. 

Pondok pesantren al-Ishlah masih menganut metode salaf, artinya di dalam pondok masih mengajarkan kitab kuning, seperti: fiqh, tauhid, nahwu, shorof, tafsir, hadits, dll. Ketika pagi setelah sholat sholat dan pengajian pagi, masing-masing akan bersiap-siap untuk berangkat sekolah formal, ada yang di SMK, SMA, MAN, Universitas, dll. karena memang pondok ini lokasi nya sangat setrategis. Baru setelah sholat ashar s/d malam hari para santri akan di bekali dengan berbagai macam ilmu agama sesuai dengan tingkatan nya.]

Saya bisa bercerita seperti ini, karena saya alumni dari pondok Pesantren al-Ishlah bandar kidul, masuk pada tahun 2005 ketika itu saya pas mulai menempuh pendidikan di MAN 3 Kota Kediri, yang sekarang menjadi MAN 2 Kota Kediri.



Minggu, 03 November 2019

Majlis Masyarakat Maiyah Di Kediri " Sanggar Kedirian" Perjalanan Diri Mengenal Diri

Majlis Masyarakat Maiyah Di Kediri " Sanggar Kedirian" - Sedikit tuisan Kang Santoso tentang kegiatan maiyah di Kediri. Deail informasi dan agenda kegiatan bisa anda lihat di: 
  • Website Resmi: Sanggar Kedirian - www.sanggarkedirian.com
  • Chanel YouTube "Sanggar Kedirian"Disini
  • Sosial Media (FB, Tweeter, IG: "Sanggar Kedirian"
Pengajian tak semata - mata di lakukan dengan aktivitas menyimak kitab suci. Duduk bersama dalam satu lingkaran, membicarakan isu-isu terkini tentang kemanusiaan, masyarakat dan kebangsaan juga bisa dimaknai mengaji.

Gambaran tersebut muncul dalam aktivitas Sinau Bareng di Majlis Maiyah Sanggar Kedirian Di Kediri. Mereka berasal dari berbagai latar belakang, mulai kalangan santri, aktivis, pemuda, masyarakat umum. Tua, muda, laki-laki dan perempuan turut aktif dalam acara yang digelar oleh Majelis Simpul Maiyah di Kediri, yang meng-induk ke Maiyah Nusantara yang di didirkan oleh Mbah Nun sapaan akrab Cak Nun / MH. Ainun Najib itu. 

Kegiatan tersebut merupakan agenda yang rutin digelar setiap bulan sekali, tepat nya malam sabtu legi. Salah satu tokoh masyarakat sekaligus yang menjadi pagar kelilmuan adalah Kang Bus, yang punya nama lengkap Bustanul Arifin. Beliau yang selalu memberikan pemaparan tentang tema sudah di tentukan sebelum nya dan di kaji saat rutinan maiyah di kediri. Kegiatan maiyah di kediri ini berjalan seadanya, sak ana ne wae...yang penting muatan materi keilmuan dari pada acara tersebut benar-benar keberkualitas dan dapat di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa, acara yang berkwalitas tidak selalu harus dibungkus dengan acara yang mewah. Yang penting kegiatan nya berjalan dan dapat menjadi wadah silaturrahim untuk memperkuat paseduluran  serta kerukunan antar masyarakat.

Majles Maiyah Di Kediri - Sanggar Kedirian
Maiyah Sanggar Kedirian 

Slogan Maiyah Sanggar Kedirian adalah "Perjalanan Diri Mengenal Diri" dengan harapan semoga: Masyarakat Maiyah mampu mengenali dirinya sendiri. “Seperti yang dikatakan Imam Al-Ghazali bahwa mengenal Tuhan itu lewat mengenal diri dulu. Nama ke-diri (dengan kata yang disambung) memiliki makna kembali mengenali diri masing-masing. “Bahwa Kediri ini memiliki makna menuju ke diri individu untuk mengenalinya, menyadari, dan mengevaluasi diri. Setiap peserta yang hadir di berikan peluang untuk mengapresiasi acara sinau bareng ini dengan sudut pandang nya masing-masing, dengan harapan dialog dan tanya jawab antar peserta akan berjalan mengalir. Sehingga ilmu yang di dapat semakin banyak dan bermakna
Tulisan menarik lain nya:  Daftar Makam Auliya' di Kota dan Kabupaten Kediri Terbaru
majlis sinau bareng maiyah di kediri
majlis sinau bareng maiyah di kediri

Seperti yang di ceritakan oleh Kang Hartono, bahwa Maiyah di Kediri sebenar nya sudah berdisi sejak 2012 namun telah lama vakum, dan di hidupkan lagi kegiatan nya pada tanggal 11 September 2016, di tempatkan di Ruko Sebelah utara stadion Brawijaya, di hadiri oleh Cak Fuad (Kakak nya Cak Nun). Yang kebetulan pas hari itu Cak Fuad ada agenda ceramah di Pengajian Ahad Pagi Masjid Baitur Rohman Semampir. Pada tanggal itu lah, yang saat ini di jadikan untuk memperingati hari kelahiran Majlis Maiyah Di Kediri " Sanggar Kedirian"
Maiyah Di Kediri - Sanggar Kedirian
Maiyah Di Kediri - Sanggar Kedirian
Untuk mengiringi sholawatan... Crew Kanjeng Kustik selalu setia menemani, demikain sekilas informasi tentang keberadaan Majlis Masyarakat Maiyah Di Kediri " Sanggar Kedirian"

Kamis, 30 Maret 2017

Dakwah Islam Dalam Pagelaran Wayang Kulit

Dakwah Islam Dalam Pagelaran Wayang Kulit  - Dakwah Islam sudah dilakukan sejak lama di Indonesia dengan berbagai metode dan sarana. Salah satunya adalah dengan metode pendekatan budaya lokal dan sarana hiburan masyarakat, seperti yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan kisah wayangnya. Wayang sebagai warisan budaya kemudian di adopsi untuk sarana dakwah dengan menampilkan cerita-cerita yang bernafaskan ajaran Islam sebagaimana yang di tuliskan oleh Kang Satoso di bawah ini.

Mungkin ini adalah otak-atik gatuk atau kereto Boso dengan kata lain merupakan asal-usul sebuah istilah dalam khazanah budaya Islam Jawa 

Berdasarkan buku Minanur Rahman dan Arabic The Source Of All The  Langguages yang menyatakan bahwa bahasa Arab itu merupakan induk semua bahasa. Dengan demikian, berdasarkan teori itu kemungkinan penamaan Wayang itu diambil dari kata “wachyan / wahyun” artinya wahyu/firman Tuhan.
Dakwah Islam Dalam Pagelaran Wayang Kulit
Dakwah Islam Dalam Pagelaran Wayang Kulit 
Jadi, nama figur dan kisah dalam Ramayana dan Maha Barata itu pada mulanya berasal dari wahyu Ilahi. Sedangkan Dalang, yang memainkan wayang tersebut berasal dari kata Arab “Dallan” artinya penuntun atau penunjuk jalan.  Jadi, Dalang itu adalah orang yang mempertunjukan kisah tentang wayang yang bernuansa petunjuk-petunjuk Tuhan untuk umat manusia, baik dalam urusan pribadi, keluarga, pemerintahan, Negara, hubungan internasional, peperangan dan sebagainya. Ada juga kerajaan antagonis yaitu Astina (As-syithon)  dengan penguasanya Duryudana (Durjana) yang selalu bersikap jahat seperti syaithan.
Tokoh punakawan yang menjadi figur penasehat yang senantiasa memberikan pencerahan dalam cerita wayang juga memiliki filosofi dan makna yang begitu mendalam.  Punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng Petruk dan Bagong ada kemungkinan berasal dari kata Semar/Sammir berarti siap sedia, Gareng/Khair berarti kebaikan/kebagusan, Petruk/Fatruk berarti meninggalkan, sedangkan Bagong/Bagho artinya lalim atau kejelekan  “Sammir Ilal Khairi Fatruk Minal Bagho” yang artinya “Berangkatlah menuju kebaikan maka kamu akan meninggalkan kejelekan”. Ini juga selaras dengan perintah Allah SWT supaya “amar ma’ruf nahi munkar” yaitu “Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan buruk

Dalam cerita Maha Barata yang mencerita kisah keturunan Pandu Dewanata yang dikenal dengan Pandawa juga sangat lekat dengan tuntunan ajaran Islam. Pandawa yang terdiri dari lima bersaudara  Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa, mengisyaratkan kepada Lima Rukun Islam.  Sedang tokoh kontranya adalah bala Kurawa dan Astina yang selalu membuat kemudhorotan. Dalam pementasan wayang, sang dalang juga selalu menempatkan mereka pada posisi yang berseberangan, dimana tokoh Pandawa berada dikanan sebagai lambang kebaikan, sedang Kurawa/Astina selalu di kiri sebagai lambang keburukan.

Kisah Tokoh Pandawa jika diselaraskan dengan ajaran Islam terutama sebagai pengejawantahan Rukun Islam adalah sebagai berikut;
1. YUDHISTIRA
Yudhistira merupakan rangkaian dari kata “Yudh, is dan tira”. Yudh kependekan dari kata ‘Yudha” artinya  jihad atau perang; Is kependekan dari kata “Islam” dan Tira merupakan kependekan dari kata “Tirakat”. Yudhistira ini juga memiliki Jimat Kalima sada, yang mengisyaratkan kepada “Kalimah Syahadat” Rukun Islam yang pertama. Maksudnya adalah seseorang yang telah mengucapkan kalimah Syahadat (masuk agama Islam) berarti ia bertekad untuk memerangi hawa-nafsunya dan berupaya menaklukkannya agar ia dapat mengikuti kehendak Allah SWT, sebagai Tuhannya dan mengikuti Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya. Oleh karena itu Rasulullah SAW menyatakan bahwa jihad melawan hawa-nafsu itu merupakan jihad paling besar.
Yudhistira dilambangkan dengan ibu jari dimana mengucapkan kalimah syahadat atau tauhid Ilahi merupakan ibu atau induk dari ajaran Islam. Seperti julukannya sebagai Satrio Pembareb

2. BIMA
Bima atau Raden Werkudoro yang selalu siap dengan senjata pamungkasnya yaitu Kuku Pancanaka yang diartikan sholat lima waktu haruslah ditegakkan dalam keadaan apapun. Bima juga memiliki julukan Ksatria Penegak yang merefleksikan Ibadah Shalat sebagai Tiang Agama atau Penegak Agama
Bima merupakan rangkaian dari kata “Bi dan Ma”. Bi kependekan dari kata “Bisa” sedangkan Ma kependekan dari kata “Manunggal”. Jadi, Bima itu bisa manunggaling kawula marang Gusti, dan dia memiliki kuku Pancanaka yaitu memiliki kekuatan lima waktu yang mengisyaratkan kepada “Shalat” rukun Islam yang kedua. Maksudnya, amalan shalat itu merupakan media bertemunya seorang hamba dengan Khaliqnya. Oleh karena itu Rasulullah SAW menyatakan bahwa seorang yang sedang menunaikan shalat hendaknya ia seakan-akan sedang melihat Tuhannya, tapi jika tidak dapat melihat-Nya, hendaknya ia merasa sedang dilihat Tuhannya.
Bima dilambangkankan dengan jari telunjuk, telunjuk sebagai simbol dan alat penunjuk arah. Dengan shalat manusia juga bisa mendapat petunjuk dan dapat bertemu dengan Allah swt, ketika shalat juga ada gerakkan menegakkan jari telunjuk. Selain itu shalat juga harus ditegakkan, karena sebagai tiang agama.

3. ARJUNA
Raden Arjuna digambarkan sebagai tokoh yang sangat tampan, lemah lembut, pemberani, pemanah ulung, pembela kebenaran, dan idola kaum wanita. Ini merefleksikan Ibadah Puasa wajib dibulan Ramadhan yang penuh hikmah dan pahala sehingga menarik hati kaum Muslim untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Keahlian Raden Arjuna dalam bertempur dan memanah ini, merefleksikan Ibadah Puasa sebagai senjata untuk melawan hawa nafsu.
Arjuna merupakan rangkaian dari kata Ar, Ju dan Na. Ar kependekan dari kata Arsa, artinya akan atau mengharapkan, Ju kependekan dari kata maju, dan Na kependekan dari kata rah ina, artinya terang karena penerangan dari langit atau agama. Jadi, ARJUNA bermakna mengharapkan kemajuan atau kesuksesan ruhani (agama). Ini mengisyaratkan kepada ”Shiyam” atau Puasa sebagai rukun Islam ketiga. Maksudnya adalah amalan Puasa dapat membuat pelakunya berhati suci yang menyebabkan Tuhan berkenan mengaruniakan wahyu (petunjuk), sehingga hati menjadi terang-benderang.  Oleh karena itu sejarah membuktikan bahwa sebelum para nabi menerima wahyu, biasanya mereka melakukan puasa lebih dahulu (atau bertapa).
Arjuna sebagai Ksatria Penengah disimbolkan dengan jari tengah, dimana jari tengah yang memiliki posisi paling tinggi ini menggambarkan bahwa dengan puasa manusia dapat meraih derajat yang tinggi, dan merupakan penengah atau penyeimbang untuk menahan hawa nafsu.

4. NAKULA
Nakula merupakan rangkaian dari kata “Na dan Kula”. Na kependekan dari kata “Trisna” artinya kasih-sayang, sedangkan Kula kependekan  dari kata “Kawula” artinya masyarakat. Jadi, Nakula itu mengisyaratkan kepada “Zakat” sebagai rukun Islam keempat. Maksudnya, memberikan zakat, infaq, sedekah, hadiah dan yang sejenisnya merupakan manifestasi dari cinta-kasih seorang muslim kepada sesama manusia sebagai makhluq Allah SWT.
Nakula disimbolkan dengan jari manis dimana jari manis sebagai simbol cinta dan kasih sayang, karena biasa dipakaikan cincin tanda cinta.

5. SADEWA
Sadewa merupakan rangkaian dari kata “Sa dan Dewa”. Sa kependekan dari kata “Sangu” artinya bekal, De kependekan dari kata “Gede” artinya besar dan banyak, sedangkan Wa kependekan dari kata “Dawa” artinya panjang atau lama. Jadi, Sadewa itu mengisyaratkan kepada ibadah  “Haji” sebagai rukun Islam kelima. Maksudnya, ibadah Haji itu membutuhkan bekal yang besar dan untuk keperluan hidup dalam waktu yang panjang, disamping untuk biaya transportasi, terlebih bagi seorang muslim Indonesia yang jauh dari kota Mekkah, kerajaan Saudi Arabia.
Sadewa disimbolkan dengan jari kelingking, karena jari kelingking merupakan jari terkecil. Haji merupakan ibadah yang memerlukan syarat, sehingga tidak semua umat Islam bisa memenuhinya, atau hanya sebagian kecil saja yang bisa melaksanakannya.
Jika kelima tokoh diatas bersatu, maka akan menjadi kekuatan yang luara biasa, seperti halnya jika 5 rukun jika kita jalankan dengan sepenuhnya, maka keimanan kita juga akan sangat kuat.
Demikian sedikit tulisan tentang Dakwah Islam Dalam Pagelaran Wayang Kulit 
Sumber asli ada disini
http://kangsantoso.blogspot.co.id/2017/03/dakwah-islam-dalam-pagelaran-wayang.html

Senin, 05 Oktober 2015

Kenapa HARUS Ngaji KITAB KUNING, Kok Tidak Langsung Merujuk Pada Al-Qur;an dan Hadis saja, Ini Penjelasannya

Kang Santoso mau berbagi tentang pemikiran Kaum Sarungan yang berlatar belakang Pondok Pesantren Tradisional "Pesantren Salafiyyah". Tulisan ini saya copas dari situs Ngaji.Web.Id dan saya ubah bahasanya agar mudah di pahami serta sedikit tambahan yang saya anggap perlu. Sebenarnya judul yang lebih tepat seharusnya ''Kenapa Harus Bermadzhab dan Taqlid Kepada Ulama?'' karena yang dimaksud dengan menggunakan kitab kuning disini adalah bermadzhab dengan mengikuti salah satu dari 4 Imam Madzhab dalam arti taqlid kepada Ulama. Mari kita ulas kenapa kita harus Taqlid dan bermadzhab.
Akhir-akhir ini memang lagi gencar-gencar nya fenomena penolakan dari sebagian golongan terhadap konsep Taqlid untuk kaum awam. Hal ini tentunya menimbulkan polemik baru bagi mayoritas ummat Islam, terutama bagi orang seperti kita yang tiada memiliki keilmuan yang meadai untuk memahami ajaran agama Islam langsung dari sumbernya yakni Al-Qur’an dan as sunnah (Hadits).
Disamping itu keengganan untuk bermadzhab (baca ; Taqlid) telah serta merta membangkitkan semangat sebagian ummat islam untuk beristinbath (menggali hukum langsung dari sumbernya, yakni al qur’an dan as sunnah) tanpa disertai sarana yang memadahi. Dan akibatnya dapat kita rasakan, betapa spirit agama yang semestinya adalah mengajarkan "kebenaran Agama" berubah menjadi “Pembenaran Pemahan Agama” dan yang terjadi adalah sikap fanatisme golongan yang di sertai dengan fitnah-fitnah yang dapat menimbulkan perpecahan diantara sesama ummat Islam. Sehingga Islam yang Rohmatan Lil Alamin, Islam yang mengajarkan welas asih dan ramah berubah menjadi Islam yang suka marah-marah.


Oleh karenanya sebelum kita melepaskan diri dari mata rantai bermadzhab (Taqlid) sebaiknya kita bercermin diri setidaknya tentang beberapa hal :

Pertama Adakah Kita Telah Memahami Bahasa Arab Dengan Benar?
Memahami bahasa arab dengan benar adalah syarat pertama yang harus kita kuasai, mengingat dua sumber utama dalam Islam yakni Al-Qur'an  dan Sunnah, keduanya menggunakan Bahasa Arab. Untuk dapat memahami bahasa Arab dengan baik dan benar, maka kita harus mampu mengusai Ilmu yang berkaitan dengan bahasa Arab, antara lain: Gramatika Arab (Nahwu-Shorof), Sastra Arab / Balaghoh (Badi’, Ma’ani, Bayan), Logika Bahasa (Manthiq) Sejarah Bahasa, Mufrodat, dan lain-lain. Hal ini sangat penting guna meminimalisir kesalahan dalam menguraikan makna (pesan moral) yang dikehendaki oleh syari’at dari sumber Tekstual, selain itu juga untuk memahami dengan benar maksud dari nash-nash yang bersifat ‘Am, Khosh, berlaku Hakiki, Majazi dst.
Menjadi sesuatu yang naif jika kita berani menghukumi “Halal-Haram, Sah-Batal, Sunnah-Bid'ah, Benar - Salah” hanya berdasarkan pemahaman dari terjemah Al-Qur'an  dan Sunnah. Sebagai ilustrasi sederhana,  berikut kami kutipkan peran pemahaman bahasa arab yang baik dan benar dalam memahami Al-Qur'an  dan Sunnah :
Contoh Fungsi Gramatika Arab"  Dalam Firman Alloh (QS. Al Maidah : 6) yang menjelaskan tata cara berwudhu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah : 6)

Coba anda perhatikan kalimat  وَأَرْجُلَكُمْ (dan kedua kaki kalian) dalam firman Alloh diatas, dimana kata tersebut dibaca Nashob (dibaca Fathah pada huruf lam) padahal kata tersebut lebih dekat dengan kata بِرُءُوسِكُمْ  (kepala kalian) yang dibaca Jar (dibaca kasroh pada huruf Ro’) dengan konsekwensi makna sebagai berikut :
  • Jika kata وَأَرْجُلَكُمْ (dan kedua kaki kalian) dibaca Jar (kasroh) maka yang harus dilakukan untuk kaki ketika berwudhu adalah Mengusap bukan Membasuh, hal ini disebabkan kata  وَاَرْجُلِكُمْ  disambung dengan kata بِرُءُوسِكُمْ yang berarti amil (kata kerjanya) adalah  وَامْسَحُوا (dan Usaplah)
  • Jika kata وَأَرْجُلَكُمْ (dan kedua kaki kalian) dibaca Nashob (Fathah) maka yang harus dilakukan untuk kaki ketika berwudhu adalah Membasuh bukan Mengusap, hal ini disebabkan kata وَأَرْجُلَكُمْ disambung dengan kata وُجُوهَكُمْ  yang berarti amil (kata kerjanya) adalah فَاغْسِلُوا (Basuhlah)
Coba kita perhatikan: adanya sedikit perbedaan dalam pemahaman, berimplikasi pada makna dan kewajiban yang berbeda. Dimana ketika kata وَأَرْجُلَكُمْ dibaca fathah/Nashab maka kewajibannya adalah Membasuh, sedang jika kata وَاَرْجُلِكُمْ dibaca Kasroh/Jar, maka kewajibannya adalah Mengusap. Adakah hal ini kita dapati dari Al-Qur'an edisi terjemah?

Contoh Fungsi Balaghoh/Sastra Arab
Masih dalam tema ayat diatas, coba anda perhatikan kata إِذَا قُمْتُمْ  dengan menggunakan Fiil Madhi (kata kerja masa lampau) yang jika di terjemahkan secara tekstual, menjadi: “Apabila kalian telah berdiri /menjalankan”... sedang yang dimaksud adalah sebelum sholat. Inilah yang dalam pelajaran sastra arab disebut dengan “Ithlaqul Madhii Wa Uridal Mustaqbal”

Contoh Fungsi Manthiq
Diantara fungsi “Manthiq”/Logika Bahasa dalam konteks ayat diatas adalah guna men-Tashowwur-kan (menjelaskan dengan makna yang Jami’ dan Mani’) dari masing-masing kata dalam ayat diatas, misal yang dimaksud dengan “Yad” (tangan) adakah ia adalah “Tangan” dalam bahasa kita? “Wajah” seberapakah daerah yang masuk kategori “Wajah”? dan “Ru’us” (kepala), Membasuh, Mengusap, dst.... adakah semuanya dapat kita definisikan dengan kamus bahasa indonesia? Sedang Al-Qur'an menggunakan bahasa Arab dengan Nilai sastra yang paling tinggi ?

Kedua Sudahkah kita Menghafal Al Qur’an (Seluruhnya) Dan Juga Sekurang-Kurangnya Seratus Ribu Hadits ?

Syarat kedua diatas sangatlah diperlukan karena dengan terpenuhunya syarat tersebut akan tergambar semua ayat dan hadits yang terkait satu sama lain. Sehingga jika kita hendak memutuskan suatu perkara, keputusan/pendapat yang kita ambil tidak akan bertabrakan  atau bertentangan dengan nash-nash yang lain.
Sebagai ilusrtrasi sederhana kita gunakan ayat ayat diatas dengan terjemah sbb : “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian hendak melaksanakan sholat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan usaplah kepalamu dan kedua kakimu sampai kedua mata kaki.” (QS. Al Maidah : 6)
Jika kita memahami hanya dari ayat tersebut, maka akan kita dapati hukum wajibnya berwudhu adalah bagi setiap orang yang hendak melaksanakan sholat, baik ia orang yang masih dalam keadaan suci maupun berhadats. mengingat keumuman perintah pada ayat diatas yang ditujukan pada setiap orang yang hendak melaksanakan sholat.

Syarat kedua tsb, juga berguna untuk menghindarkan anda menempatkan dalil bukan pada tempatnya, misal menempatkan ayat-ayat yang sejatinya untuk orang-orang kafir namun anda hantamkan untuk orang-orang islam. Bukankah Abdulloh Ibn Umar –rodhiyallohu ‘anhu- pernah berkata, ketika beliau ditanya tentang tanda-tanda kaum Khowarij ?

وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ اللَّهِ وَقَالَ إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Dan adalah Ibnu Umar, ia memandang mereka (Khowarij) sebagai seburuk-buruk makhluk Alloh, dan ia berkata : “Mereka (Khowarij) berkata tentang ayat-ayat yang (sejatinya) turun terhadap orang-orang kafir, mereka timpahkan ayat tersebut untuk orang-orang beriman”. (HR. Al Bukhori, Bab Qotlil Khowaarij)

Ketiga : Sudahkah Anda Menguasai Ilmu-Ilmu Pendukung Yang Lain Guna Memahami Al Qur’an Dan As Sunnah ?

Perangkat lain yang mesti anda kuasai dalam menggali hukum dari Al Qur’an dan As Sunnah yang memang luas dan dalamnya melebihi luas dan dalamnya samudera, diantaranya adalah:
  • anda harus mengetahui “Asbaabun Nuzul” dari setiap ayat dan juga “Asbaabul Wurud” dari setiap hadits, hal ini penting agar anda mampu menempatkan dalil-dalil sesuai porsinya dan mampu membedakan dalil-dalil yang “Nasikh” (Pengganti/penyalin) dari dalil-dalil yang “Mansukh” (diganti/disalin)
  • anda juga harus menguasai sekurang-kurangnya “Qiro’ah Sab’ah” dalam ilmu qur’an, mengingat akan Naif rasanya seorang “Calon Mujtahid” melafadzkan al qur’an tidak dengan pengucapan yang fashih.

Disamping itu anda juga harus menguasai ilmu-ilmu pendukung guna memahami As Sunnah, seperti Mushtholah Hadits, Jarh Wat Ta’dil, Taroojim, dst... hai ini penting setidaknya agar anda tidak berhukum dengan hadits yang lemah dengan menabrak hadits yang shohih.

Keempat : Sudahkah Anda Menguasai Kaidah Ber-Istinbath Dari Para Imam Mujtahid ?

Syarat keempat diatas juga sangat penting setidaknya guna mengetahui cara mensikapi nash-nash yang Mujmal, Mubayyan, ‘Am, Khosh, dan cara men-Jami’-kan (mencari titik temu) jika terdapat nash-nash yang dzahirnya Mukholafah (berselisih) atau Ta’aarudh (bertentangan).
Sebagai ilustrasi sederhana kami kutipkan Firman Alloh berikut :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ


 

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al Baqoroh : 62)
Sepintas ayat diatas memberi pemahaman adanya peluang yang sama bagi orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, untuk mendapat pahala disisi Alloh atas kebajikan yang mereka perbuat. Sehingga seakan ayat tsb menyatakan bahwa orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, dan orang-orang Shobiin, bisa masuk surga. Adakah kenyataannya memang demikian ? sedang dalam ayat lain Alloh berfirman :

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ


“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Alu Imron : 85)

Perhatikan dua ayat diatas !!! adakah pengetahuan yang memadahi pada diri anda untuk men-Jami’-kan dua nash yang dzahirnya Mukholafah (tidak sejalan) tsb ?.... sungguh apa yang kami sampaikan diatas hanyalah sebagian kecil perangkat yang harus anda kuasai untuk Ber-Istinbath (menggali hukum langsung dari sumbernya)
Saudaraku... kami sampaikan hal-hal diatas bukan dalam rangka mematahkan semangat belajar anda, akan tetapi ketika anda mencoba menggali hukum dari sumbernya langsung tanpa perangkat yang memadai, maka yakinlah Kelancangan Anda Hanya Akan Berakibat Perpecahan Ummat Islam.

Likulli syaiin ahlun, idza wusidal amru lighoiri ahlihi.. Fantadzhiris saa’ah : “Setiap segala sesuatu ada ahlinya, Jika suatu perkara diembankan (diserahkan) pada yang bukan ahlinya, maka nantikanlah saat kehancurannya”.
Sebagaimana fenomena yang terjadi saat ini banyak kehancuran, musibah, dan saling memfitnah dikalangan umat Islam, baik di dunia maya atau di dunia nyata, dikarenakan banyak orang yang berani berfatwa menyesatkan orang lain atas dasar ayat Al-Qur'an  dan Sunnah tanpa melalui prosedur ijtihad yang benar dan keilmuan yang mumpuni. alih-alih mereka hanya COPAS (Copy Paste) tulisan di situs tertentu karena kebanyakan dari mereka adalah tipe Santri Google,